Memilah Kata, Mengemas Dunia dalam Cerita.

Kamis, 08 Desember 2016

Nasgor 212 Boyolali Kok Antik ya?

Hujan telah berhenti (8/12), membuat suasana Boyolali semakin sejuk, dingin dan agak berkabut. Hawa semacam itu membuat rasa lapar bertambah. Waktu yang tepat untuk makan, karena siang tadi saya sengaja tak makan berat. Setelah usai menunaikan janji, pergilah saya ke Warung Makan Nasgor 212.


Tadi, saya melaju ke Warung Nasgor 212 dekat terminal Boyolali, dan ternyata tidak buka. Entah itu memang sudah tutup atau bagaimana. Pilihan selanjutnya adalah menuju  ke Jalan Perintis Kemerdekaan, depan Swalayan Palma Boyolali.

Kalo tidak salah, dulu nasgor 212 sempat ada di Komplek bangunan  Pasar Boyolali. Itu jauh sebelum Boyolali bersolek seperti sekarang. Kayaknya, itu jaman saya kuliah deh, pas sebelum berangkat ke Jerman.

Masih ingat wiro sableng kan? Nah, 212 tuh menu makanannya sableng-sableng. Termasuk unik. Yap, sekarang akan saya ceritakan rasanya makan di 212 cabang baru. Sayang sekali, saya tidak membawa smartphone. Jadi, tadi gak bisa foto-foto.

Sementara bisa lihat di Sini ya gambarnya :



Dari luar 212 ini nampak biasa saja. Sewaktu masuk, baru deh akan merasakan perbedaannya. Menurut saya antik. Meja makannya adalah meja kaca bening yang makin unik karena ada perpaduan dengan  mesin jahit. Kaki saya bisa mainan di Situ.

Tempat duduknya lucu, agak jadul, dan ada gambar tokoh kartun. Saya duduk di atas Sinchan. Untung Sinchannya ga protes hahaha. Selain itu, ada TV dan radio-radio jadul juga. Di atas Televisi tua juga terdapat lampu-lampu gaul jaman sekarang yang bentuknya kepala tokoh kartun. Ada lukisan unik yang menempel di Dinding. Lukisan ibu hamil yang menonjolkan perut besarnya. Di Dalam perut itu  ada gambaran anak kecil bermain di Padang ilalang. Nama pelukisnya Sasongko. Kebetulan saya duduk di dekat Lukisan.

Tak Cuma lukisan, ada bedhil tua yang di pajang di Dinding dekat kasir. Kalo saya simpulkan, warung makan tersebut seperti sebuah sekolah, rumah keluarga dan kantor kelurahan. Rasa-rasanya begitulah. Mirip rumah, karena ada Televisi di tengah-tengahnya dan bersebelahan dengan mushola. Lampunya remang-remang juga. Disebut Sekolahan, karena ada papan tulis besarnya ditulisi dengan kapur. Mirip Sekolahan tahun 80-90an hahaha. Saya bilang mirip kelurahan, karena lantainya. Itu kayak kantor di Desa saya dulu.

Sembari menunggu pesanan, saya menikmati dekorasi ruangan di Situ. Oya, bedewe menu makanan berlevel juga hits di Sini. Ada sampai level 15. Saya pesan nasgor spesial 212 level 2. Dua kali ke Sini, saya selalu pesan minum susu. Soalnya susu dapat menetralkan lidah saya setelah kepedesan. Gak lama, makanan saya datang.

Bedewe, saya makan sendiri,  kekasih saya sedang ke Luar Kota membeli sesuatu untuk urusan kami hahahah. Adek ponakan saya sedang les, teman makan yang cocok sama saya sedang kerja. Ya sudah, Saya enak-enak sendiri saja. Oya, soal rasa, karena kalo saya ke Situ pas keadaan lapar, maka rasanya enak. Gurih dan nasinya pas.

Pedes? Iya, padahal baru level 2. Saya tanya kasirnya, jumlah cabenya itu kelipatan 3. Level 2 cabenya 6 biji. Wuaaaaaaaaaaaah, tapi pedes. Perut saya berontak dan pokoknya berasa mau nangis. Untuk urusan harga, tergolong wajar.

Pelayanannya?

Ramah dan gokil. Keponakan saya, si Asti cerita katanya sebel kalo ke Sana. Dia bilang, Pegawainya suka nggodain. Hahahha, ya mungkin karena belum banyak makan asam garam dan cabe, Asti berasa kayak dimodusin. Tapi, aslinya bukan gitu.

Lalu?

Saya kenyang dan bersyukur sekali masih bisa makan dengan tenang plus sambil mengamati. Huhuuhui


Kapan-kapan saya ambil fotonya yaaa..


Ayooo wisat kuliner di Boyolali. Uenak loooh :DD


0

0 Comment:

Posting Komentar

Maturnuwun kunjungan dan komentarnya :D