Memilah Kata, Mengemas Dunia dalam Cerita.

Sabtu, 19 Maret 2016

Bermain Ke Museum Ullen Sentalu : Labirin Yang Mempesona

Pembukaan
Mendaki Jalan Kaliurang, sampai juga penulis di Sebuah Museum yang berada di Daerah Pakem (19/03). Ialah dia Museum Ullen Sentalu. Ullen Sentalu sendiri punya makna nyala dari sebuah lampu blencong menjadi petunjuk manusia dalam dan meniti kehidupan. Ulating bLencong SejatiNe Tataraning LUmaku merupakan kepanjangan dari nama museum itu.


di Depan Museum Ullen Sentani : Captured by Silvi



Datang sebelum museum buka, ternyata target penulis jadi pengunjung pertama gagal. Pasalnya, sudah ada 11 orang yang duduk di Depan pintu museum dan sebagian antri di Loket. Loketnya mungil terletak disamping kiri. Tiket museum pada saat ini dibandrol Rp. 30.000 untuk pengunjung domestik dewasa. Tiket seharga itu sudah termasuk parkir lo..
dok Pribadi

Loket mungil, dok pribadi



Belum sampai 10 menit duduk, sudah ada rombongan anak-anak SD. Mereka juga akan masuk dan dibagi ke Grup-grup kecil lagi. Nah, untuk yang pertama diizinkan masuk adalah kami yang datang duluan. Penulis nyempil sendiri di antara 2 kelompok pelancong dari Jakarta dan Semarang.

Dipandu oleh Pemandu yang sudah terdidik, mbak Fivel, selama 50 menit kami diajak keliling museum, membuka cakrawala dan bolak-balik Solo Yogya. Wah, jangan lupa pake baju dan sepatu yang nyaman ya.

Menembus Solo-Yogya

Sebelum perjalanan menembus ruang dan waktu itu, kami mendapat arahan bahwa di Dalam Museum tidak boleh sembarangan foto-foto. Hanya pada tempat tertentu saja kami dibolehkan. Bisa dimaklumi, museum tersebut dikoleksi swasta, jadinya harus menghargai privasi. Hmm, tapi dalam kelompok kami tetep ada yang ngeyel curi-curi tuh dan berisik sampe menganggu kami yang sedang mendengar pemandu.
***Jadilah pengunjung yang berbudaya, hargai orang lain dan peraturan.

Kami dibawa memasuki sebuah Gua bernama Selogiri, yang batuannya bersumber dari Gunung Merapi. Akan dijelaskan macam-macam tarian dan sedikit mengena gamelan, plus kehidupan bangsawan dinasti Mataram. Diceritakan pula mengenai pangeran Hengki dan Bobi, hayo siapa mereka?

Kami diajak bolak-balik Solo Yogya di Sini, bagi penyuka sejarah, tempat ini cocok jadi referensi belajar loh.
by Silvi,, di dekat pembelian souvenir




Dari Gua kami diajak masuk Gapuro Nogo Pertolo lalu dibawa ke Kampung Kambang. Nah, seingat saya di Sinilah saya melihat tulisan-tulisan Putri Tieneke. Putri yang patah hati, katanya. Putri ini gemar menulis dan sewaktu sedih ia juga dikirimi puisi pelipur lara dari teman-temannya. Puisi dan tulisan kabanyakan ditulis menggunakan bahasa Belanda. Santai aja, sudah ada terjemahannya. Pada Zaman itu, bahasa Belanda memang digunakan para Bangsawan.

Dari banyak tulisan yang ada, hanya sebait yang bisa penulis catat. Puisi itu ditulis 10/06/1940 di Asrikanto.

Kau tentu tahu bahwa dalam Kehidupan ini
Suka duka silih berganti
Maka, bersyukurlah dalam Hati

Puisi ini ditujukan untuk seorang keponakan. Penulis kurang menandai, apa ini ditulis Putri Tineke atau kerabatnya.

Setelah melihat Blog dari Putri Tineke, kami diajak ke Ruang Batik. Akan dijelaskan mengenai jenis batik dan ragamnya. Ciri khas Batik Yogyakarta dan Solo juga akan ditunjukkan loh. Setelah terkagum-kagum dengan batik, kami di ajak ke Ruang yang khusus membahas seorang Putri Cantik, namanya Gusti Nurul. Ruangan itu juga diresmikan sendiri loh oleh Gusti yang ayu alami ini.

Menjaga stamina, kami dipersilahkan istirahat dan disuguhi jamu awet muda (katanya). Seger dan maknyuslah, walaupun Cuma segelas cukuplah untuk perjalanan lanjutan.

Kami memasukin ruang kaca transparan yang berisikan patung-patung, akan terlihat patung Ganesha, yang perutnya menyembul. Konon artinya perutnya itu berisi ilmu pengetahuan. Sesi hampir berakhir, kami masuk ke Sasana Sekar Bawana, di mana orang-orang bisa belajar mengenai pakaian pengantin khas Solo dan Yogya.

Mau foto-foto?

Di Sini lah kami bisa berfoto. Ini merupakan cerita yang diambil dari Candi Borobudur. Itu sengaja dibuat miring, karena prihatin dengan kondisi anak muda terhadap budaya saat ini.


by silvi


Oya, setelah 50 menit berakhir, kami ga boleh masuk lagi. Perjalanan disudahi dengan apik, terimakasih atas panduannya ya mbak Fivel!


me n Silvi


Catatan :

Waktu 50 menit terasa kurang.
Fokus terpecah antara mendengar pemandu dan melihat koleksi.
Souvenirnya kemahalen, harusnya disediakan souvenir murah meriah yaa, at least gantungan kunci lucu mungil dan terjangkau, kartu pos :D
Restauran Baukenhof belum buka heheheh (kepagian sih)

Keseluruhan, jika ambil skala 1-10, saya kasih 9.

Terimakasih Mbak Silvi (Pemandu Wisata Museum Ullen Sentalu) yang mau diajak foto-foto dan tak repoti :D Cilpi Cilpi Cilpi



0

0 Comment:

Posting Komentar

Maturnuwun kunjungan dan komentarnya :D